By : Deka Watchson Sagala
watchson@yahoo.com
http://watchson.uni.cc
Kebudayaan merupkan hasil dari interaksi antara manusia dan lingkungan. Hasil karya arsitektur merupakan salah satu bagian dari budaya. Kebudayaan dalam bentuk arsitektural ini sering juga disebut arsitektur vernakular. Karya arsitektur ini merupakan sebuah hasil karya yang dihasilkan dari interaksi antara manusia dan lingkungannya.
Arsitektur vernakular sebagai hasil karya dalam hal ini sangat erat hubungannya dengan kebudayaan dan lingkungan dimana bangunan arsitektural tersebut berada. Banyak hal yang telah mempengaruhi perkembangan arsitektur vernakular atau yang sering disebut juga sebagai arsitektur tradisional. Sistem kekerabatan, sistem kemasyarakatan, sistem religi (kepercayaan), mata pencaharian, seni budaya, dan hal-hal yang terlibat dalam interaksi antara manusia dan lingkungannya tersebut.
Arsitektur tradisional di Indonesia merupakan segudang contoh kasus ibarat laboratorium yang kaya dan menarik dibahas untuk menerangkan bagaimana lingkungan dapat mempengaruhi hasil karya manusia dalam bentuk bangunan arsitektural. Dalam arsitektur Bali misalnya, faktor yang paling banyak mempengaruhi adalah sistem kepercayaan masyarakat Bali. Pengaruh ini sangat jelas juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan dan kebudaayan Bali, sehingga sangat sulit bagi kita untuk memisahakan antara budaya dan kepercayaan dalam kehidupan bermasyarakat dan hasil karya kebudaaan di Bali.
Lain halnya dengan Arsitektur tradisional di daerah Batak, kebudayaan daerah Batak lebih banyak terinspirasi dari filosofi budaya Batak yaitu Dalihan na Tolu. Dalihan na Tolu merupakan sebuah sistem yang mengatur kehidupan masyarkat Batak dalam berinteraksi, bermasyarakat. Dalihan na Tolu secara umum menggambarkan bagaimana seseorang menempatkan diri dalam masyarakat. Hal ini diterapkan juga dalam arsitektur tradisional Batak. Misalnya saja pintu Ruma (nama rumah tradisional Batak Toba) yang dibuat sangat pendek sehingga setiap orang yang masuk harus menunduk terlebih dahulu. Hal ini berusaha menggambarkan bahwa setiap orang harus menempatkan diri dan hormat (dismbolkan dengan tunduk) kepada tuan rumah.
Tantangan saat ini adalah paraigma yang seakan-akan menyisihkan arsitektur vernacular. Anggapan bahwa Arsitektur vernacular yang sudah ketinggalan jaman, kuno dan tidak mampu bersaing dalam himpitan arsitektur minimlis saat ini sedikit-demi sedikit telah memudarkan makna sebenarnya dari arsitektur vernacular tersebut. Jika dilihat dari sisi kebudayaan yang jelas-jelas menerangkan arsritektur itu sebaga interaksi antara manusia dan lingkungannya, maka seharusnya arsitektur vernacular yang sangat kaya dan beragam di Indonesia mampu memberi peranan yang penting dan lebih luas di Indonesia.
Arsitektur vernacular merupakan karya yang telah melalu proses yang panjang dan telah berhasil memcahkan berbagai masalah di lingkungan arsitektur tersebut berada. Misalnya, Arsitektur vernacular di Indonesia secara nyata telah menyelesaikan masalah curah hujan yang tinggi di daerah tropis di Indonesia dengan atap miring pada bangunannya. Seharusnya tak perlu dipertanyakan lagi, bahwa atap miring merupakan sebuah hasil dari interaksi antara bangunan dan curah hujan di daerah tropis, dan hasil dari interaksi tersebut adlah bentuk bangunan dengan atap miring. Namun kenyataan di lapangan, tidak jarang kita menemui arsitek yang lebih sering menerapkan atap datar pada desain bangunannya di Indonesia.
Memang penerapan dan perkembangan teknologi yang sangat pesat sangat mendukung perkembangan arsitektur di Indonesia. Konstruksi beton, mampu diterapkan dalam pembuatan ekspresi bangunan dengan atap datar. Dalam hal ini arsitek yang merancang atap datar di Indonesia tak dapat disalahkan, sebab mereka hanyalah sebagaian dari sekian banyak arsitek yang menggunakan kemudahan dan perkembangan teknologi dalam desain arsitekturnya. Permasalahannya adalah bagaimana ketika arsitektur dengan teknologi tesebut tidak sepenuhnya dapat memecahkan masalah, bahkan mendatangkan masalah baru? Tidak jarang kita mendengar atap datar yang bocor.
Lalu bagaimana seorang arsitek menyikapi masalah seperti ini? Konstruksi dan teknologi yang lebih baik adalah solusinya. Namun di sisi lain, arsitektur vernacular adalah salah satu solusi yang telah teruji. Arsitektur tradisional tidak harus diterapkan secara utuh dalam disain arsitektur saat ini, namun hal yang harus diperhatikan adalah niali-niali yang terkandung dalam arsitektur vernacular tersebut. Contoh di atas (arsitektur di daerah tropis) adalah hanya sebagaian kecil dari seian banyak pesan yang dapat kita pelajari dari arsitektur vernacular. Masih banyak lagi yang dapat kita pelajari dari sekian banyak keragaman dan kekayaan budaya Indonesia.
Terima kasih…